Singkat Cerita.....
Setelah sekian
kali Iblis mencoba dan mencoba untuk menghasut Nabi Ayyub AS (yang memiliki
ketaatan/aqidah dan keimanan yang tinggi kepada Allah SWT, serta terkenal
penyabar yang bukan alang kepalang) selalu tidak berhasil, selanjutnya Iblis
memerintahkan kepada sekutunya agar menaburkan benih-benih penyakit ke dalam
tubuh Nabi Ayyub as.
Benih-benih
penyakit yang ditaburkan itu segera berpengaruh pada kesehatan Nabi Ayyub as,
sehingga ia menderita berbagai penyakit, demam panas, batuk dan lain-lain lagi
sehingga menyabkan badannya makin lama makin kurus, tenaganya makin lemah dan
wajahnya menjadi pucat tidak berdarah dan kulitnya menjadi berbintik-bintik dan
muncul bau tidak sedap. Sehingga ia dijauhi oleh orang-orang sekampungnya dan
oleh kawan-kawan dekatnya, karena penyakit Nabi Ayyub as dapat menular dengan
cepatnya kepada orang yang menyetuh atau mendekatinya.
Ia menjadi
terasing dari pergaulan dan hanya istrinya yang bernama Rahmah yang tetap
mendampinginya, merawat dengan penuh kesabaran, penuh rasa kasih sayang,
melayani segala keperluannya tanpa mengeluh atau menunjukkan tanda kesal hati
dari penyakit suaminya yang tidak kunjung sembuh itu.
Istri Nabi Ayyub digoda iblis
Iblis
memperhatikan Nabi Ayyub as dalam keadaan yang sudah amat parah itu tidak
meninggalkan adat kebiasaannya, ia tetap beribadah, berzikir, dan tidak
mengeluh atau mengaduh, ia hanya menyebut nama Allah memohon ampun dan
lindungan-Nya bila ia merasakan sakit.
Iblis merasa
kesal dan jengkel mlihat ketabahan hati Nabi Ayyub as menanggung derita dan
kesabarannya menerima berbagai musibah dan ujian. Iblis kehabisan akal, tidak
tahu apa lagi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuannya merusak aqidah dan
iman Nabi Ayyub as.
Ia lalu
meminta bantuan pikiran para sekutunya, apa yang harus dilakukan lagi untuk
menyesatkan Nabi Ayyub setelah segala usahanya tidak membuahkan hasil.
Bertanyalah
iblis kepada sekutunya : “Di manakah kepandaianmu dan tipu dayamu yang ampuh
serta kelicikanmu menyebar benih was-was dan ragu ke dalam hati manusia yang
biasanya tidak pernah sia-sia?
Kemudian
sekutu iblis menjawab : “Engkah telah berhasil mengeluarkan adam dari surga,
bagaimanakah engkau lakukan itu semuanya sampai berhasilnya tujuan mu itu?”
“Dengan
membuju istrinya,” jawab iblis
“jika
demikian, lakukan siasat itu dan terapkanlah pada Nabi Ayyub as, hembuskan
racunmu ke telinga istrinya yang tampak sudah agak kesal merawatnya, namun
masih tetap patuh dan setia” jawab sekutu
“Benar dan
tepat pikiranmu itu,hanya tingagal itu satu satunya jalan yang belum aku coba.
Pasti kali ini degan cara menghasut isterinya aku akan berhasil melaksanakan
maksudku selama ini” jawab iblis
Dengan
rencana barunya pergilah iblis mendatangi isteri Ayyub, menyamar sebagai
seorang kawan lelaki dari suaminya. Ia berkat kepada istri Nabi Ayyub yang
bernama Rahmah itu : “Apa kabar dan
bagaimana keadaan suamimu saat ini?”
Seraya
mengarahkan jari telunjukknya ke arah suaminya, rahmah berkata kepada iblis
yang menyamar sebagai teman Nabi Ayyub “Itulah
dia terbaring menderita kesakitan, namun mulutnya tidak berhenti-hentinya
berdzikir menyebut nama Allah. Ia masih berada dalam keadaan parah, mati tidak,
hidup pun tidak”
Kata-kata
isteri Ayyub itu menimbulkan harapan bagi iblis bahwa, kali ini ia akan
berhasil maka diingatkanlah isteri Nabi Ayyub as akan masa mudanya di mana ia
hidup dengan suaminya dalam keadaan sehat,m bahagia dan makmur dan
diingatkannya kenang-kenangan dan kemesraan. Kemudian keluarlah Iblis dari
rumah Nabi Ayub meninggalkan isteri Nabi Ayyub as duduk termenung seorang diri,
mengenang masa lampaunya, masa kejayaan suaminya dan kesejahteraaan hidupnya,
membanding-bandingkannya dengan masa di mana berbagai penderita dan musibah
dialaminya, yang dimulai dengan musnahnya kekayaan dan harta benda, disusul
dengan kematian puteranya, dan kemudian yang terakhir diikuti oleh penyakit
suaminya yang parah dan sangat menjemukan itu. Isteri Nabi Ayyub as merasa
kesepian berada di rumah sendirian bersama suaminya yang terbaring sakit, tiada
sahabat, tiada kerabat, semua menjauhi mereka karena takut tertular penyakit
kulit Nabi Ayyub.
Seraya
menarik nafas panjang datanglah isteri Nabi Ayyub mendekati suaminya yang
sedang menderita kesakitan dan berbisik-bisik kepadanya :
“wahai sayangku, sampai kapankah engkau
tersika oleh Tuhanmu ini?Di manakah kekayaanmu, putera-puteramu,
sahabat-sahabatmu di kawan-kawan terdekatmu? Oh, alangkah syahdunya masa lampu
kami, usia muda, badan sehat, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup tersedia,
dikelilingi oleh keluarga dan terulang kembali masa yang manis itu? mohonlah
wahai Ayyub dari Tuhanmu, agar kami dibebaskan dari segala penderitaan dan
musibah yang berpanjangan ini”
Berkatalah
Nabi Ayyub as menjawab keluhan istrinya itu:
“wahai isteriku yang kusayangi, engkau
menangisi kebahagiaan dan kesejahteraan masa lalu, menangisi anak-anak kita
yang telah meninggal diambil oleh Allah dan engkau minta aku memohon kepada
Alla agar kita dibebaskan dari kesengsaraan dan penderitaaan yang kita alami
saat ini. Aku hendak bertanya kepadamu, berapa lama kita tidak menikmati masa
hidup yang mewah, makmur dan sejahtera itu?”,
Istrinya
menjawab “Delapan puluh tahun”
“Lalu berapa lama kita telah hidup dalam
penderitaan ini?” tanya Nabi Ayyub
“Tujuh tahun” jawab sang isteri
Nabi Ayyub
melanjutkan jawabannya “Aku malu, memohon
dari Allah memebaskan kita dari kesengsaraan dan penderitaan yang telah kita
alami belum sepanjang masa kejayaan yang telah Allah kurniakan pada kita.
Sepertinya engkau telah termakan hasutan dan bujukan syaitan, sehingga mulai
menipis imanmu dan berkasal hati menerima takdir dan hukum Allah. Tunggulah
ganjaranmu kelak ketika aku telah sembuh dari penyakitku dan kekuatan badanku
pulih kembali. Aku akan mencambukmu seratus kali. Dan sejak detik ini aku
haramkan dariku makan dan minum dari tanganmu atau menyuruh engkau melakukan
sesuatu untukku. Tinggalkanlah aku seorang diri di tempat ini sampai ALlah
menentuknya takdir-Nya”.
Setelah
ditinggalkan oleh isterinya yang diusir, selanjutnya Nabi Ayyub as tinggal
seorang diri di rumah, tiada sanak saudara, tiada anak dan tidak ada istri. Ia
bermunajat kepada Allah dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih
sayang-Nya. Ia berdoa sebagaimana tertara dalam Al qur an :
“Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia
menyeru Tuhan-Nya: Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan
siksaan” (Qs : 38 : 41)
Allah menerima doa Nabi Ayyub as
yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman serta berhasil
memenangkan perjuangannya melawan hasutan dan bujukan iblis. Allah mewahyukan
firman kepadanya : “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan
untuk minum” (Qs. 38 :
42)
Nabi Ayyub berhasil menjalani ujian berat
Dengan izin
Allah setelah dilaksanakan petunjuk Nya itu, sembulah segera Nabi Ayyub as dari
penyakitnya, semua luka-luka kulitnya menjadi kering dan segala rasa pedih
hilang, seolah-olah tidak pernah terasa olehnya. Ia bahkan kembali menampakkan
lebih sehat dan lebih kuat dari pada sebelum ia menderita.
Saat
itu ketika isterinya yang telah diusir dan meninggalkan dia seorangg diri ditempat
tinggalnya yang terasing, jauih dari jiran, dan jauh dari keraiaman kota,
merasa tidak sampai hati lebih lama berada jauh dari suaminya. Istri Nabi Ayyub
pun kembali, namun ia hampir tidak mengenali Nabi Ayyub, karena ketika ia
kembali, ia melihat bukanlah Nabi Ayyub as yang sakit seperti yang ia
tinggalkan sebelumnya. Namun Nabi ayub yang mudah belia, segar bugar, sehat
seakan akan tidak pernah sakit dan menderita. Ia segera memeluk suaminya seraya
bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
mengembalikan kesehatan suaminya bahkian lebih baik dari pada sebelumnya, melihat
kedatangan Rahmah, Ayyub bergembira. namun Nabi Ayyub masih teringat dengan
sumpahnya yang ingin memukul rahmah seratus kali.
Dalam
kebimbangan untuk melaksanakan sumpah atau tidak, karena kasihan kepada
istrinya yang sudah menunjukkan kesetiaannya dan mengikutinya di dalam segala
duka dan deritanya. Nabi Ayyub bingung antara dua perasaa, di satu sisi
ia merasa wajib melaksanakan sumpahnya, namun di satu sisi ia merasa bahwa
istrinya yang setia dan berbakti itu tidak patut menjalani hukuman seberat itu,
Ayyub
menangkap firman Tuhan yang berbunyi : “Ambillah lidi seratus batang dan pukullkan istrimu sekali saja! dengan
demikian, tertebuslah sumpahmu”
Di buku
cerita islami versi lain, ada yang menerjemahkan firman Tuhan kepada Ayyub
sebagai berikut :
“Dan ambillah dengan tanganmu seikit
(rumput), maka pukullah dengan itu dan jangnlah kamu melanggar sumpah.
Sesungguhnya kami dapat dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik
hamba. Sesungguhnya di amat taat (kepada Tuhannya).
Sehingga
Nabi Ayyub tidak memukul Rahmah, istri yang setia itu sebanyak 100 kali. namun
dengan seikat rumput / lidi yang berjumlah seratus dan dipukulkan dua kali saja,
untuk melaksanakan janjinya itu sewaktu sakit.
Istri Nabi
Ayub as merupakan wanita yang sholehah, ia berbuat sesuatu bukan karena
sifatnya yang buruk, namun karena digoda oleh syaitan. dan Allah maha pengampun
lagi maha penyayang.
Cerita Nabi
Ayub as selanjutnya dianugrahi banyak anak oleh Allah SWT. di antara anak
laki-laki ada yang bernama Basyar yang juga dikenal dengan nama
Dzulkifli, selanjutnya ia juga menjadi Nabi utusan Allah seperti ayahnya yang
sabar, yaitu Nabi Dzulkifli.
Itulah sebesit
penggalan dari sekian panjang cerita Nabi Ayyub as, beliau merupakan salah satu
hamba Allah yang paling sabar. Ia telah mengalami berbagai cobaan yang luar
biasa, tapi iman dan aqidahnya tidak tergadaikan, tetap terjaga.
Semoga Allah
berkenan menganugrahi kesabaran kepada kita seperti yang dianugrahkan kepada Nabi
Ayyub. Aamiin.