Alkisah
Khalifah Harun Ar Rasyid sedang dalam sebuah perjalanan melintasi sebuah gurun
pasir menunggangi unta. Bersamanya Seorang Penasehat yang bijak, Ibnu Samak.
Perjalanan panjang di siang yang
panas. Terik matahari membuat dehidrasi rombongan dan sang khalifah pun
kehausan. Pada satu tempat yang teduh, Harun ar Rasyid menepi.
Ibnu Samak :
(menawarkan segelas air) sambil berujar
:“Khalifah…, dalam kondisi panas dan tenggorokan kehausan, andaikata
engkautidak dapatkan air untuk minum kecuali dengan harus mengeluarkan separuh
kekuasaanmu, sudikah engkau membayar dan mengeluarkannya? !”
Khalifah Ar Rasyid : (Tanpa pikir panjang
menjawab) “Tentu Aku bersedia
membayarnya seharga itu asal tidak mati kehausan!”
Maka usai mendengarnya, Ibnus
Samak memberikan segelas air itu dan khalifah pun tidak lagi kehausan. Kemudian
.....
Ibnu Samak :
(melontarkan pertanyaan lagi) “Khalifah, andai air segelas yang engkau minum
tadi tidak keluar dari lambungmu selama beberapa hari tentulah amat sakit
rasanya. Perut jadi gak keruan dan semua urusan jadi berantakan karenanya.
Andai kata bila engkau berobat demi
mengeluarkan air itu dan harus menghabiskan separuh kekayaanmu lagi, akankah
engkau sudi membayarnya? ”
Khalifah Ar Rasyid :
(Mendengar itu, merenungi kondisi yang
disebut oleh Ibnus Samak. Seolah mengamini maka khalifah menjawab) “Saya akan
membayarnya meski dengan separuh kekuasaanku !”
Ibnu Samak :
(Mendengar jawaban dari sang khalifah, maka Ibnus Samak sang penasehat raja
yang bijak kemudian berkomentar) “O….,
kalau begitu seluruh Kekuasaan yang khalifah miliki itu rupanya hanya senilai
segelas air saja! ”.
Apa Makna yang terkandung didalam
dialog di atas?
Sungguh sangat tidak wajar
diperebutkan atau dipertaruhkan tanpa hak ” Sahabatku ,’ Itulah harga sebuah
jabatan, sebuah kerajaan, kekuasaan dan kekayaan ternyata sama dengan harga
segelas air. Makna yang terkandung didalamnya adalah hendaklah kita jangan
merasa bangga dan sombong dengan segala kekayaan yang kita miliki. Dan juga
jangan saling memperebutkannya dengan menghalalkan segala cara. Karena kekayaan
material di dunia sifatnya hanya sementara saja. Tidak lebih dari segelas air
kala kita kehausan. Kisah diatas melukiskan betapa tidak berartinya harga
kekuasaan dan kekayaan yang selalu dikejar oleh banyak orang selama ini.
Demi kekayaan banyak orang tega
memfitnah bahkan membunuh saudaranya. Demi kekuasaan kadang orang tega mengorbankan
ribuan hingga jutaan rakyatnya. Padahal itu semua hanya seharga segelas air di
kala kita kehausan.
Tidak lebih…. Diriwayatkan, pada
suatu hari ketika Rasulullah SAW melalui bangkai kambing. Lalu baginda
bersabda: “Tidakkah engkau lihat bangkai ini telah dihinakan oleh pemiliknya?”
Mereka menjawab, “Jelas saja
hina. Buanglah dia!”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
“Demi Zat yang aku dalam kekuasaan-Nya. Sesungguhnya DUNIA ini lebih hina bagi
Allah daripada bangkai kambing ini bagi pemiliknya. Kalau dunia di sisi Allah
sebanding dengan sayap nyamuk, tidak akan seteguk air pun diberikan kepada
orang kafir.”
Pada suatu waktu, Rasulullah
memegang pundak Abdullah bin Umar. Beliau berpesan, ”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang
sekadar melewati jalan (musafir).”
Abdullah menyimak dengan khidmat
pesan itu dan memberikan nasihat kepada sahabatnya yang lain. ”Apabila engkau berada di sore hari, maka
janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya, bila engkau berada di pagi
hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu
sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk
beramal sebelum datangnya kematianmu.” (HR Bukhori).
Allah SWT berpesan pada pelbagai
ayat tentang hakikat, kedudukan, dan sifat dunia yang memiliki nilai rendah,
hina, dan bersifat fana. Dalam surat Faathir ayat 5, Allah menekankan bahwa janji-Nya adalah benar. Dan, setiap manusia
janganlah sekali-kali teperdaya dengan kehidupan dunia dan tertipu oleh
pekerjaan setan.
Di ayat lain dalam surat Al-Hadid
ayat 20, Allah berfirman: ”Ketahuilah
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan
ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu”.
”Dan
berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air
hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya
tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang
diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS Al-Kahfi: 45).
Sahabatku, Marilah kita
renungkan ayat Allah, hadist dan kisah pendek di atas dan kita rasakan betapa
tidak berharganya sebenarnya jabatan, kekuasaan dan kekayaan ini. Begitulah
hakikat dunia pada pandangan Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, kebanyakan manusia
melihat yang sebaliknya. Kita mengagung-agungkan dunia dan segala perhiasannya
yang bersifat fana dan lupa destinasi/tujuan utama kita, Akhirat yang kekal
abadi. Kejayaan dunia lebih kita risaukan jika tidak diperolehi berbanding
kejayaan di Akhirat yang entah bagaimana nasib kita.
Dan marilah kita syukuri nikmat
yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada kita amat sangat banyak, hingga kita
tak akan mampu dan ttidak pernah akan sanggup mampu menghitungnya.
"Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan
mampu"( QS,An-Nahl: 18) “Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS. ar-Rahman (55) :
13)
Sahabatku, Marilah kita jadikan
dunia ini sebagai wasilah untuk mengarungi negeri kekal dan abadi yaitu negeri
akherat, dengan marilah kita senantiasa beribadah kepada Allah, dengan
menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, serta mentadaburi dan mentafakuri
apa-apa yang diciptakan Allah di alam semesta ini.
Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bissawwâb.
Sumber : Hariyono Hr . . .http://www.kompasiana.com/yonoyeni/hakekat-nilai-suatu-jabatan-kekuasaan-dan-kekayaan-kisah-penuh-hikmah_55284307f17e615f328b4579
Tidak ada komentar:
Posting Komentar